Pelatihan Las untuk 27 Pemuda Kamoro Digelar di Nawaripi, Dibuka Kadistrik Merlyn Temorubun
Timika, KontenMimika.com — Sebanyak 27 pemuda Kamoro dari Kampung Hiripau, Distrik Mimika Timur, dan Kampung Nawaripi, Distrik Wania, mengikuti pelatihan keterampilan pengelasan (welder) di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Merah Putih milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kampung Nawaripi.
Pelatihan dimulai Sabtu, 28 Februari 2026, dan berlangsung selama tiga hari.
Peserta terdiri atas 16 orang utusan Kampung Hiripau dan 11 orang dari Kampung Nawaripi. Selama pelatihan, mereka dibekali perlengkapan keselamatan kerja seperti kaus seragam, helm, kacamata, sarung tangan, sepatu, serta peralatan las.
Kegiatan dibuka oleh Plt. Kepala Distrik Wania, Merlyn Temorubun, didampingi Kepala Kampung Nawaripi Norman Ditubun, Kepala Kampung Hiripau Bonefasius Pawe, Kepala Bidang Pelatihan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Mimika Rahman, serta Babinter TNI AU Lanud Yohanis Kapiyau Serka Kasimirus Anitu. Pelatihan menghadirkan instruktur dari Politeknik Amamapare Timika.
Merlyn mengatakan pemerintah distrik mengapresiasi keaktifan BUMDes Merah Putih Nawaripi dalam mendorong pengembangan ekonomi kampung melalui pelatihan keterampilan. Menurut dia, program tersebut sejalan dengan tujuan Dana Desa untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

“Memulai sesuatu tidak perlu berbicara terlalu tinggi, tetapi berani mencoba dan terus melakukan pembenahan agar ekonomi kampung bisa hidup,” ujar Merlyn.
Ia menilai pelatihan ini menjadi langkah mempersiapkan putra-putra lokal agar memiliki keterampilan dan kepercayaan diri untuk bekerja, termasuk di lingkungan industri besar seperti PT Freeport Indonesia. Menurut dia, selama ini banyak tenaga kerja dari luar daerah dipercaya bekerja karena dianggap memiliki keterampilan dan disiplin.
“Kita sebenarnya tidak kurang. Kita punya potensi di bidang las, permesinan, dan keterampilan lainnya. Tapi sering kali kurang percaya diri dan kurang disiplin,” katanya.
Merlyn berharap peserta tidak hanya memperoleh hard skill, tetapi juga membangun soft skill seperti kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, dan menjalin relasi. Ia menambahkan pemerintah distrik akan membantu menginformasikan lowongan kerja kepada perusahaan agar memberi ruang bagi tenaga kerja lokal.

Kepala Kampung Nawaripi Norman Ditubun mengatakan pelatihan tersebut merupakan kerja sama antara Pemerintah Kampung Hiripau dan BUMDes Merah Putih Nawaripi dengan pembiayaan dari Dana Desa Tahun 2026. Sebagai kampung mandiri, kata dia, setiap pelatihan yang digelar tidak lagi gratis karena menjadi bagian dari sumber pendapatan BUMDes.
“Kepala Kampung Hiripau dan Kampung Nawaripi sudah menandatangani kerja sama. Setelah Alokasi Dana Desa cair, biaya administrasi langsung dilunasi,” ujarnya.
Instruktur dari Politeknik Amamapare, Emanuel Alexander Rettob, menjelaskan kerja sama pelatihan antara lembaganya dan LPK Merah Putih telah berlangsung selama empat tahun. Selain pendidikan formal, Politeknik Amamapare juga membuka pelatihan nonformal dengan berbagai jurusan keterampilan.
Menurut Emanuel, dunia kerja saat ini tidak hanya menuntut ijazah formal, tetapi juga sertifikat kompetensi. Setelah pelatihan, peserta akan mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat. Lulusan SMA dan SMK yang lulus ujian akan mendapat sertifikat dengan nomor registrasi sesuai ijazah, sedangkan lulusan SD dan SMP memperoleh sertifikat lokal.

“Di dunia kerja, sertifikat kompetensi sangat penting. Ke depan, perusahaan akan semakin membutuhkan tenaga kerja yang memiliki bukti keterampilan,” ujarnya.
Kepala Bidang Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Mimika, Rahman, menekankan pentingnya kedisiplinan dan sikap selama mengikuti pelatihan. Menurut dia, keterampilan tanpa sikap yang baik tidak akan memberi manfaat maksimal.
Babinter TNI AU Serka Kasimirus Anitu juga mengingatkan peserta agar serius mengikuti pelatihan dan menjauhi minuman keras. “Selama latihan harus ikut aturan yang ada,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kampung Hiripau Bonefasius Pawe berharap pemerintah daerah dan PT Freeport Indonesia dapat membantu mempekerjakan peserta yang telah mengikuti pelatihan. Jika belum terserap, ia meminta dukungan anggaran agar para pemuda dapat membuka bengkel las secara mandiri.
“Anak-anak ini ikut pelatihan dengan dana ADD 2026. Kami berharap ada dukungan penuh agar mereka benar-benar bisa bekerja dan berubah,” ujarnya. (Tr)






