BRIN Soroti Rantai Distribusi Panjang, Petani dan Nelayan Mimika Perlu Akses Pasar Lebih Luas
KONTENMIMIKA.com, Timika — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti panjangnya rantai distribusi, keterbatasan infrastruktur, dan akses pasar yang masih menjadi kendala pengembangan komoditas unggulan pertanian, perkebunan, dan perikanan di Kabupaten Mimika.
Persoalan tersebut dipaparkan Periset Madya BRIN, Solichah Vichy Budiwati, dalam Seminar Hasil Kajian Pengembangan Komoditas Unggulan Pertanian, Perkebunan, Perikanan, dan Pangan di Kantor Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Mimika, Kamis 15 Oktober 2026.
Dalam kajian itu, BRIN mengidentifikasi potensi komoditas lokal seperti cabai rawit, sagu, kopi, kelapa, udang, kepiting, kakap, dan bawal. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung sarana produksi, teknologi, pembiayaan, dan sistem pemasaran yang memadai.
Ketergantungan pada Pertambangan
BRIN juga menyoroti struktur ekonomi Mimika yang masih didominasi sektor pertambangan. Dalam materi kajian, kontribusi sektor tersebut terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Mimika pada 2025 tercatat sebesar 88,86 persen, dengan nilai PDRB mencapai Rp95,12 triliun.
Karena itu, pengembangan sektor nonpertambangan dinilai penting untuk memperluas sumber pertumbuhan ekonomi daerah. Kajian tersebut memetakan potensi komoditas di Distrik Mimika Timur, Mimika Barat, dan Agimuga sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Selisih Harga Jadi Tantangan Petani
Salah satu persoalan yang ditemukan adalah panjangnya rantai distribusi hasil pertanian. Dalam contoh pemasaran cabai rawit di Mimika Timur, harga dari petani kepada pengepul tercatat Rp65.000 per kilogram. Pengepul kemudian menjualnya kepada pedagang kecil seharga Rp100.000 per kilogram, sebelum mencapai konsumen dengan harga Rp120.000 per kilogram.
Perbedaan harga tersebut menunjukkan perlunya memperkuat posisi tawar petani dan memperpendek rantai distribusi agar keuntungan yang diterima produsen meningkat.
Nelayan juga menghadapi kendala berupa tingginya biaya bahan bakar dan alat tangkap, terbatasnya fasilitas penyimpanan dingin (cold storage), serta minimnya informasi harga dan akses pasar.
BRIN Dorong Penguatan Koperasi dan Kemitraan
Untuk mengatasi persoalan tersebut, BRIN merekomendasikan penguatan kelompok tani dan nelayan melalui koperasi, penyediaan sarana pengangkutan hasil produksi, peningkatan fasilitas penyimpanan, serta perbaikan akses jalan dan air bersih.
BRIN juga mendorong kemitraan pemasaran dengan hotel, restoran, katering, distributor, dan ritel modern. Pemanfaatan platform digital, peningkatan standar mutu, serta pengembangan industri pengolahan dinilai dapat membantu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Melalui strategi tersebut, pengembangan komoditas unggulan Mimika diharapkan lebih terarah dan mampu memperluas akses pasar. Dengan demikian, sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian daerah serta meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan. (Ai)






