200 Mahasiswa UNCEN Jayapura Belajar Teknologi Tambang dan Manajemen Risiko dari Eksekutif Freeport
Pembelajaran tersebut berlangsung melalui program Eksekutif Mengajar di Auditorium Gedung Sains dan Kemitraan PTFI-UNCEN, Jayapura, Selasa (15/9/2026). Kegiatan ini menghadirkan Senior Vice President Operations Maintenance PTFI Ayep Dirmawan dan Vice President Community Relations PTFI Engel Enoch sebagai narasumber.
Program tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai penerapan teori perkuliahan dalam praktik industri, termasuk menghadapi tantangan operasional dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan UNCEN, Isabella Waicang, mengatakan, kegiatan itu membantunya memahami hubungan antara materi perkuliahan dan kebutuhan nyata di dunia kerja.
“Yang paling menarik, kami bisa melihat langsung bagaimana teori di kampus dipakai untuk menjawab tantangan nyata di industri. Tidak hanya belajar tentang pekerjaan di tambang, tetapi juga tentang cara berpikir dan kompetensi yang dibutuhkan untuk masuk ke dunia profesional,” kata Isabella.
Teknologi Bantu Prediksi Risiko Operasional
Dalam pemaparannya, Ayep Dirmawan menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah sistem pemeliharaan peralatan di industri pertambangan. Pemeliharaan tidak lagi hanya dilakukan setelah peralatan mengalami kerusakan, tetapi juga melalui pendekatan pencegahan dan prediksi potensi gangguan.
Melalui analisis data serta penerapan metode preventive maintenance dan predictive maintenance, perusahaan dapat mendeteksi potensi masalah lebih awal, mengantisipasi risiko, dan menentukan langkah penanganan secara lebih tepat.
Menurut Ayep, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keandalan operasional. Namun, keberhasilan penerapannya tetap bergantung pada kemampuan manusia dalam membaca data, menilai risiko, dan mengambil keputusan.
“Tantangannya bukan hanya bagaimana memperbaiki peralatan yang rusak, tetapi bagaimana kita mampu memprediksi risiko sebelum gangguan terjadi. Teknologi membantu pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan tepat, namun manusia yang mengelolanya tetap menjadi faktor terpenting,” ujarnya.

Mahasiswa Belajar Pentingnya Diplomasi dan Kolaborasi
Selain aspek teknis, mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya hubungan sosial dan komunikasi dalam mendukung keberlangsungan kegiatan usaha.
Vice President Community Relations PTFI Engel Enoch mengajak mahasiswa memahami pentingnya membangun kepercayaan dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Menurut dia, kemampuan mendengarkan, memahami konteks sosial dan budaya, serta membangun dialog merupakan kompetensi penting, khususnya dalam lingkungan masyarakat Papua yang beragam.
“Diplomasi bukan semata kemampuan berbicara atau bernegosiasi. Ketika kepercayaan terbangun, dialog dapat tumbuh, perbedaan dapat dikelola, dan kolaborasi mempunyai ruang untuk berkembang,” kata Engel.
UNCEN Apresiasi Program Eksekutif Mengajar
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNCEN, Septinus Saa, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Ia menilai pembelajaran langsung dari praktisi industri memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas wawasan di luar materi perkuliahan.
Ia berharap mahasiswa Fakultas Teknik dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkuat pengetahuan dan mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.
“Saya berharap mahasiswa Fakultas Teknik dapat memanfaatkan momentum belajar langsung dengan praktisi eksekutif PTFI ini sebaik-baiknya sebagai bekal berharga sebelum memasuki dunia kerja,” ujarnya.
Program Eksekutif Mengajar pertama kali dilaksanakan di Kampus UNCEN pada 29 April 2026, yang menghadirkan narasumber Vice President Mining Safety Division PTFI, Eman Widijanto dan Vice President Corporate Communication PTFI, Katri Krisnati.
Melalui program ini, PTFI dan UNCEN memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan industri sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan kompetensi serta tantangan di sektor pertambangan modern. (trm)






