Pendapatan Petani dan Nelayan Harus Meningkat! Bupati JR Desak Kajian Komoditas Unggulan Mimika Ditindaklanjuti


TIMIKA, KONTENMIMIKA.com — Bupati Mimika Johannes Rettob mendesak hasil kajian komoditas unggulan di Distrik Mimika Timur, Mimika Barat, dan Agimuga segera ditindaklanjuti menjadi program nyata.

OPD terkait di Pemerintah Kabupaten Mimika diminta memastikan kajian tersebut tidak sekadar menjadi dokumen, tetapi mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan petani serta nelayan.

Demikian Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Mimika Herry Onawame menegaskan sambutan Bupati JR, agar pengembangan sektor pertanian dan perikanan harus berorientasi pada manfaat ekonomi yang dirasakan langsung masyarakat, terutama warga di kampung.

Hal itu disampaikan Herry saat menghadiri Seminar Akhir Kajian Potensi Pengembangan Komoditas Unggulan Sumber Daya Pertanian dan Perikanan di Aula Kantor Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Mimika lantai III, Jalan Yos Sudarso, Kamis 15 Oktober 2026.

Pengembangan komoditas unggulan harus disesuaikan dengan potensi dan karakteristik setiap distrik. Penentuan komoditas perlu mempertimbangkan kesesuaian lahan, ketersediaan air, kondisi lingkungan, pengalaman masyarakat, serta peluang pasar.

Bupati JR menekankan, keberhasilan program tidak cukup diukur dari peningkatan produksi. Pemerintah juga harus memastikan ketersediaan bibit, sarana produksi, akses transportasi, dan jalur pemasaran agar hasil pertanian maupun perikanan dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat.

Herry mengatakan Bupati JR berharap seminar akhir tersebut menjadi ruang untuk membahas hasil kajian sekaligus menghimpun masukan dari pemerintah distrik, pemerintah kampung, penyuluh, petani, nelayan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Empat Aspek Pengembangan Komoditas

Herry menekankan empat aspek yang perlu menjadi perhatian dalam menindaklanjuti hasil kajian.

Pertama, penentuan komoditas unggulan harus didukung data dan analisis kelayakan usaha. Kajian perlu mencakup lokasi potensial, kebutuhan sarana produksi, biaya usaha, perkiraan hasil, peluang pasar, serta risiko yang mungkin dihadapi.

Kedua, masyarakat harus menjadi pelaku utama. Karena itu, program perlu disertai pelatihan dan pendampingan berkelanjutan agar petani mampu mengelola usaha secara mandiri. Perhatian juga perlu diberikan kepada petani Orang Asli Papua (OAP), perempuan, dan generasi muda.

Ketiga, peningkatan produksi harus diikuti penguatan rantai pemasaran. Penanganan pascapanen, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi perlu disiapkan agar komoditas memiliki nilai tambah dan memberikan keuntungan lebih baik bagi petani maupun nelayan.

Keempat, hasil kajian harus diterjemahkan menjadi rencana kerja yang terukur dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

Minta Program Terukur dan Tepat Sasaran

Untuk memastikan kajian tersebut ditindaklanjuti, Herry meminta perangkat daerah terkait menyusun rencana kerja yang memuat lokasi prioritas, sasaran penerima manfaat, tahapan pelaksanaan, kebutuhan anggaran, penanggung jawab, dan indikator keberhasilan.

Ia juga mendorong pelaksanaan proyek percontohan di lokasi yang dinilai paling siap. Hasilnya perlu dievaluasi sebelum program diperluas ke wilayah lain.

Keterlibatan pemerintah distrik dan kampung, tenaga ahli, serta kelompok masyarakat dinilai penting agar program sesuai dengan kebutuhan lapangan dan dapat dipantau secara berkelanjutan.

Herry berharap hasil kajian di Mimika Timur, Mimika Barat, dan Agimuga menjadi dasar pembangunan pertanian dan perikanan yang lebih terarah, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong tumbuhnya usaha lokal, memperkuat ekonomi kampung, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. (Ai)

Berita Terkait

Top