Diinisiasi Dewan Rampeani Rachman, Sukses HUT Emas ke-50 Mapurujaya Bersama Anak Labema Jadi Ruang Temu Lintas Generasi
KONTENMIMIKA.com, Timika — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Emas ke-50 tahun Mapurujaya bersama Anak Labema (Lahir dan Besar di Mapurujaya) sukses digelar di Pelabuhan Perikanan Poumako, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Sabtu 22 Agustus 2026.
Bukan sekadar menjadi pesta rakyat di tengah kemeriahan yang dihadiri ribuan warga, namun perayaan ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi.
Para perintis, mantan pejabat, tokoh masyarakat, hingga generasi muda kembali dipertemukan untuk mengenang perjalanan Mapurujaya selama lima dekade.
Kegiatan tersebut digagas Koordinator Labema, Hj. Rampeani Rachman, bersama komunitas anak-anak Labema.
Kerja keras Rampeani bersama tim dan seluruh unsur terlibat, menjadikan iven paling meriah di Poumako itu sukses dan menjadi sukacita kebahagiaan ribuan audiens dari berbagai kalangan baik pemerintah maupun masyarakat.
Dalam rilisnya yang diterima KontenMimika.com Senin 24 Agustus 2025, Rampeani mengatakan, perayaan HUT Emas ke-50 Mapurujaya menjadi momentum untuk memberikan penghormatan kepada para pendahulu yang telah meletakkan dasar pembangunan di Mimika Timur.

“Kami hadir hari ini bersama seluruh lapisan masyarakat. Kami ingin membuktikan bahwa anak-anak Labema yang lahir, besar dan ditempa di Mapurujaya, telah kembali untuk membangun dan bangkit bersama Mapurujaya dan Kabupaten Mimika,” ujarnya.
Salah satu momen penting dalam perayaan tersebut adalah kehadiran para mantan pejabat Distrik Mimika Timur dari berbagai periode.
Di antara mereka terdapat Drs. Wilhelmus Haurissa, kepala distrik pertama Mimika Timur yang ketika itu masih berstatus kecamatan.
Haurissa menyampaikan selayang pandang mengenai perjalanan Mimika Timur serta pengalamannya dalam mendorong pembangunan masyarakat pada masa awal perkembangan wilayah tersebut.
Kehadiran para tokoh tersebut membawa suasana nostalgia. Cerita mengenai kondisi Mapurujaya puluhan tahun lalu kembali disampaikan langsung kepada masyarakat dan generasi muda.
Tokoh perintis Mapurujaya dan Kabupaten Mimika, Taslim Tuhuteru, juga hadir dalam kegiatan tersebut.
Taslim menyampaikan filosofi di balik nama Mapurujaya sekaligus mengajak masyarakat mengenang perjalanan panjang Mimika Timur.

Penghormatan untuk para pendahulu
Rampeani bersama anak-anak Labema memberikan penghormatan khusus kepada para mantan pejabat dan tokoh yang pernah mengabdi di Mimika Timur.
Piagam penghargaan diberikan kepada para mantan pejabat sebagai bentuk apresiasi atas jasa dan pengabdian mereka.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong dan dilengkapi dengan amplop serta emas kepada masing-masing penerima.
Momen itu menjadi salah satu bagian penting dalam pesta rakyat tersebut.
Para tokoh yang puluhan tahun lalu mengabdikan diri dalam pemerintahan Mimika Timur kembali hadir di hadapan masyarakat, kali ini sebagai bagian dari sejarah yang mereka ikut bentuk.
“Anak-anak Labema bukanlah orang yang abal-abal. Banyak di antara kami yang kini dipercaya menduduki jabatan-jabatan strategis. Lima anggota DPRK Mimika merupakan anak Labema. Selain itu, ada Kepala Dinas PUPR, Kepala Kesbangpol, serta anak-anak Labema yang mengabdi di berbagai bidang,” kata Rampeani.
Bagi Rampeani, penghormatan kepada para pendahulu merupakan bagian penting dari perayaan lima dekade Mapurujaya.
Ia ingin perjalanan dan jasa orang-orang yang pernah membangun wilayah tersebut tidak hilang seiring berjalannya waktu.

Sagu, siput, dan tambelo
Perayaan HUT Emas Mapurujaya kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sagu yang disajikan bersama siput dan tambelo.
Pilihan makanan tersebut berbeda dari tradisi perayaan ulang tahun yang umumnya menggunakan nasi tumpeng.
Sagu, siput, dan tambelo merupakan pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir Mimika. Ketiganya sekaligus menjadi simbol kekayaan alam dan identitas masyarakat di kawasan Mapurujaya dan Mimika Timur.
Melalui sajian pangan lokal tersebut, perayaan HUT ke-50 Mapurujaya ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh memutus hubungan masyarakat dengan budaya dan lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Selain kegiatan budaya dan penghormatan kepada para pendahulu, pesta rakyat juga diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Perayaan tersebut akhirnya tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga menjadi ajang reuni, penghormatan, pelestarian budaya, dan refleksi perjalanan Mapurujaya selama 50 tahun.
Para perintis yang dahulu ikut membangun wilayah tersebut dapat bertemu kembali dengan generasi penerus yang kini melanjutkan perjalanan Mapurujaya.
Di tengah pertemuan lintas generasi itu, Rampeani bersama anak-anak Labema mengambil peran sebagai penghubung antara sejarah masa lalu dan harapan masa depan.
HUT emas Mapurujaya pun menjadi momentum untuk mengenang orang-orang yang pernah mengabdi, menghargai masyarakat yang menjaga wilayah tersebut, merawat kekayaan alam dan budaya, serta mendorong generasi muda meneruskan pembangunan Mapurujaya dan Kabupaten Mimika. (trm)






