Pemkab Mimika Gelar Pelatihan Musik Tradisional bagi Generasi Muda Amungme dan Kamoro


TIMIKA, KONTENMIMIKA.com – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif menggelar Pelatihan Musik Tradisional bagi Generasi Muda Suku Amungme dan Kamoro di Cartenz Hotel, Jalan Budi Utomo, Timika, Papua Tengah, Selasa 14 Juli 2026.

Pelatihan yang berlangsung selama empat hari, hingga 17 Juli 2026, ini diikuti 100 peserta dari sanggar seni dan budaya Amungme serta Kamoro.

Kegiatan dibuka oleh Bupati Mimika Johannes Rettob yang diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Mimika, Ananias Faot, didampingi Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif, Elisabeth Cenawatin.

Mengusung tema “Membina Pemusik Lokal untuk Membangkitkan Musik Tradisional di Kabupaten Mimika”, pelatihan ini bertujuan melahirkan generasi muda yang mampu melestarikan sekaligus mengembangkan musik tradisional sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Mimika.

Dalam sambutannya, Ananias Faot mengatakan tema tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan tekad bersama untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya Papua.

“Selama bertahun-tahun, musik tradisional Papua sering kali hanya menjadi tontonan pada acara adat atau festival tahunan. Padahal, musik ini adalah nadi kehidupan masyarakat Mimika,” ujarnya.

Ia menjelaskan, alunan alat musik seperti pugul atau pikol, harmonika dari wilayah pegunungan, tifa, strembas, ukulele, hingga tiupan triton di kawasan pesisir merupakan suara asli Tanah Papua yang menyimpan nilai sejarah, keberanian, kedamaian, dan kebersamaan.

Ananias kemudian mengajak peserta merenungkan masa depan musik tradisional Papua.

“Siapa yang akan memainkan alat musik ini sepuluh atau dua puluh tahun mendatang? Siapa yang akan mengajarkannya kepada anak-anak Suku Amungme dan Kamoro? Jika bukan generasi saat ini, siapa lagi? Dan jika tidak dimulai hari ini, kapan lagi?” katanya.

Menurutnya, pelatihan tersebut tidak hanya mengajarkan cara memainkan alat musik tradisional, tetapi juga membekali peserta dengan pemahaman mengenai filosofi, teknik, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Ia juga menyampaikan tiga pesan kepada seluruh peserta. Pertama, menjadi pemusik lokal yang berakar kuat dengan menguasai musik tradisional secara sungguh-sungguh dan tidak malu memainkannya.

“Di mata dunia, justru keunikan musik Papua yang membuat Papua dihormati,” ujarnya.

Kedua, peserta didorong menjadi pemusik yang kreatif dengan mengembangkan aransemen baru melalui perpaduan musik tradisional dan musik modern tanpa menghilangkan ciri khas aslinya.

Ketiga, peserta diharapkan menjadi agen pelestari budaya dengan membagikan ilmu yang diperoleh kepada teman, adik, maupun masyarakat di lingkungan masing-masing agar kecintaan terhadap musik tradisional terus tumbuh.

Ananias menegaskan Pemerintah Kabupaten Mimika berkomitmen mendukung pembinaan pemusik lokal melalui penyediaan ruang latihan, peralatan musik, serta kesempatan tampil dalam berbagai kegiatan budaya.

“Bila perlu, pemerintah daerah menetapkan kebijakan agar kesenian dari dua suku besar, Amungme dan Kamoro, ditampilkan dalam setiap kegiatan besar di Kabupaten Mimika,” katanya.

Ia juga menitipkan harapan kepada para instruktur dan tokoh adat agar membimbing generasi muda dengan penuh kesabaran, disiplin, dan rasa bangga terhadap budaya sendiri.

“Mari kita bangkitkan musik tradisional Papua dan membina generasi muda pemusik tradisional yang hebat demi mewujudkan generasi Papua yang berbudaya dan berkarakter,” tutupnya.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber Nelinio Pieter Moses Parinussa dari Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Jayapura, Dominggus Kapiyau, pemusik dari Suku Kamoro, serta Frans Timang, pemusik dari Suku Amungme. (nls)

Berita Terkait

Top