Disparbudpora Gelar Pelatihan Seni 6 Hari bagi Pelajar SMP-SMA di Mimika
Timika, KontenMimika.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Mimika menggelar Kegiatan Pembinaan Kesenian, Pelatihan Seni Musik Rakyat/Folksong, Kerajinan Tangan, dan Seni Tari Budaya Lokal kepada 216 siswa-siswi dari 24 SMP dan SMA di Kabupaten Mimika, Senin, 17 November 2025.
Kegiatan dilaksanakan selama enam hari, pada 17–22 November, di Cartenz, Jalan Budi Utomo, Mimika, Papua Tengah.
Narasumber berasal dari Kementerian Kebudayaan Pusat serta narasumber lokal dari para pelaku seni Amungme dan Kamoro.

Bupati Mimika, Johannes Rettob, dalam sambutannya yang diwakili Kepala Dinas Disparbudpora Mimika, Elisabeth Cenawatin, menyampaikan rasa bahagia dan bangga melihat antusiasme serta semangat luar biasa dari para peserta yang hadir.
Menurutnya, semangat ini merupakan penanda positif bahwa generasi muda memiliki kepedulian dan kecintaan yang mendalam terhadap seni dan budaya sebagai warisan leluhur.
Elisabeth menyampaikan bahwa di era milenial, ketika teknologi berkembang pesat, pemanfaatan teknologi informasi dalam pengembangan seni sangat memungkinkan dan perlu dilakukan. Namun demikian, kemajuan teknologi tidak boleh membuat generasi muda melupakan akar budaya mereka.
“Seni dan budaya adalah bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa,” tegasnya.
Ia berharap para peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk belajar, berlatih, dan mengasah keterampilan kesenian masing-masing. Selain itu, peserta diharapkan memperoleh ilmu dan pengalaman baru yang dapat diterapkan untuk menciptakan karya seni berkualitas dan berdaya saing.
Peserta juga diharapkan menjadi duta seni budaya yang mampu memperkenalkan dan melestarikan kesenian lokal, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional.
“Pelatihan ini bertujuan untuk menemukan keseimbangan antara tradisi dan inovasi, sehingga seni kita dapat terus berkembang dan relevan dengan zaman,” tutupnya.

Sementara itu, Praktisi Seni Budaya Suku Kamoro yang juga Anggota DPRK Mimika, Dominggus Kapiyau, menyampaikan bahwa musik merupakan salah satu wujud penentu jati diri suatu bangsa. Alat musik yang digunakan untuk menentukan jati diri bangsa adalah alat musik tradisional (akustik), bukan elektronik.
“Kalau kita mau tahu jati diri kita, berarti kita harus mainkan musik akustik, bukan electone. Gitar, ukulele, string bass, seruling bambu, triton (alat musik tiup tradisional Papua yang terbuat dari cangkang karang laut besar), stik bambu, dan lainnya,” ungkapnya.
Menurut Dominggus, saat ini terjadi pergeseran pengertian dan fungsi pada musik maupun tarian tradisional di Mimika. Pergeseran ini disebabkan masuknya budaya-budaya dari luar Papua sehingga generasi muda tidak lagi dapat membedakan antara tarian adat dan tarian muda-mudi.
“Karena pengaruh budaya dari luar, akhirnya anak-anak ini sudah tidak lagi melestarikan budaya. Mereka malah merusak. Bukan hanya anak sekolah, tetapi kita masyarakat sendiri juga begitu,” ujarnya.
Dominggus menjelaskan bahwa tarian Seka adalah tarian adat dari pesisir selatan Papua (Timika, Kaimana, Fakfak) yang gerakannya dinamis dan diperuntukkan bagi muda-mudi untuk bersosialisasi maupun mencari jodoh.
Secara historis, tarian ini merupakan ungkapan syukur kepada pencipta atas hasil panen sagu atau hasil laut.
Tarian ini diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari ritual adat, termasuk prosesi pernikahan dan upacara adat lainnya. Selain itu, tarian ini juga sering ditampilkan dalam berbagai festival budaya sebagai upaya melestarikan dan memperkenalkan budaya kepada generasi muda dan masyarakat luas.
“Fungsi utama tarian Seka telah bergeser karena budaya dari luar. Akhirnya anak-anak tidak lagi melestarikan budaya. Mereka tidak bisa membedakan mana tarian adat dan mana tarian muda-mudi,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, ia berharap generasi muda Papua, khususnya generasi muda-mudi Kamoro, dapat membedakan antara tarian Seka muda-mudi dan Seka adat Kamoro. (Admin)






