Festival Seni Budaya Disbudparekraf 2026 Resmi Ditutup, 21 Cerita Rakyat Berhasil Didokumentasikan


KONTENMIMIKA.com, Timika — Festival Seni Budaya bertema “Merawat Cerita, Menghidupkan Musik, dan Melestarikan Budaya di Tanah Amungsa Bumi Kamoro” resmi ditutup Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, Kamis, 8 Oktober 2026.

Penutupan berlangsung di eks Pasar Swadaya, Jalan Yos Sudarso, Timika, Papua Tengah. Emanuel didampingi Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Mimika, Elisabeth Cenawatin.

Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Disbudparekraf tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 Kabupaten Mimika.

Festival ini bertujuan melestarikan dan memperkenalkan pakaian adat, cerita rakyat, musik tradisional, serta seni budaya suku Amungme dan Kamoro. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi ruang ekspresi dan apresiasi bagi generasi muda, siswa SMP dan SMA/SMK, seniman, budayawan, serta pelaku seni lokal.

Festival berlangsung selama empat hari, 5–8 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan 30 sanggar seni, kerajinan, rajutan, anyaman, dan ukiran; 12 sanggar kuliner binaan Disbudparekraf Mimika; 20 peserta peragaan busana (fashion show); 20 peserta cerita rakyat; serta 18 peserta musik akustik dari sanggar musik etnik.

Dalam sambutannya, Emanuel menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan festival tersebut.

Selama empat hari penyelenggaraan, kata dia, masyarakat disuguhi beragam pertunjukan seni yang memukau, mulai dari musik akustik tradisional, tarian warisan leluhur, cerita rakyat suku Amungme dan Kamoro yang sarat pesan moral, hingga kuliner dan kerajinan tangan karya pelaku seni lokal.

“Semua ini adalah bukti nyata bahwa budaya suku Amungme dan suku Kamoro hidup, kuat, dan tak ternilai harganya,” ujarnya.

Emanuel juga menyampaikan terima kasih kepada para seniman, budayawan, dan pelaku seni yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Menurut dia, para seniman dan budayawan merupakan cerminan jiwa masyarakat Mimika. Karya-karya mereka tidak hanya menghibur dan menginspirasi, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan kekayaan budaya di Tanah Amungsa Bumi Kamoro.

Apresiasi serupa disampaikan kepada para pengrajin dan pengelola sanggar kuliner yang telah menampilkan karya terbaik mereka. Ia menilai sanggar kerajinan dan kuliner menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif di Kabupaten Mimika.

“Kepada para tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, terima kasih atas bimbingan, restu, dan doa yang telah diberikan. Kalian adalah penjaga api kebudayaan yang tidak pernah padam,” kata Emanuel.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Kabupaten Mimika atas antusiasme dan partisipasi selama festival berlangsung.

“Kalian adalah tuan rumah yang luar biasa. Kehadiran dan dukungan kalian adalah bukti bahwa budaya adalah milik kita bersama,” ujarnya.

Emanuel mengajak masyarakat untuk terus merawat cerita leluhur dengan mewariskannya kepada anak cucu. Menurut dia, cerita rakyat merupakan salah satu warisan budaya yang paling berharga.

Ia juga mendorong masyarakat untuk menghidupkan musik akustik tradisional dengan memainkan, mendengarkan, dan mengajarkannya kepada generasi muda. Selain itu, pelestarian busana adat dan dukungan terhadap produk lokal perlu terus diperkuat.

“Pakaian adat merupakan identitas diri, dan identitas adalah kekuatan yang menyatukan. Mari terus mendukung produk lokal, bangga mengonsumsi makanan pokok lokal, dan menjadikan makanan lokal sebagai bagian dari konsumsi sehari-hari,” tegasnya.

Dokumentasikan 21 Cerita Rakyat dan 14 Tarian Tradisional

Mengakhiri sambutannya, Emanuel memaparkan sejumlah capaian festival dari aspek pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi, serta sosial kemasyarakatan.

Dari aspek pelestarian budaya, festival ini berhasil mendokumentasikan 21 cerita rakyat, 18 lagu musik akustik, 19 busana adat dalam peragaan busana suku Amungme dan Kamoro, serta 14 tarian tradisional dalam bentuk video.

Sementara dari aspek pemberdayaan ekonomi, kegiatan tersebut melibatkan 12 sanggar kuliner dan 30 sanggar pengrajin. Adapun dari aspek sosial dan budaya, festival ini diklaim dihadiri sekitar 3.000 pengunjung selama empat hari penyelenggaraan serta meningkatkan partisipasi generasi muda, khususnya siswa SMP dan SMA, dalam pelestarian budaya.

Emanuel berharap festival tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Mimika.

“Mari kita jadikan festival ini sebagai titik awal, bukan titik akhir. Mari jadikan festival ini sebagai momentum kebangkitan budaya, bukan sekadar acara seremonial,” tutupnya. (nls)

Berita Terkait

Top