IAI Papua Tengah: Distribusi Apoteker Belum Merata di Delapan Kabupaten
TIMIKA – Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Pengurus Daerah Papua Tengah menyatakan ketersediaan tenaga apoteker di provinsi tersebut masih menghadapi tantangan, terutama terkait pemerataan distribusi di delapan kabupaten.
Ketua IAI Papua Tengah, Apt. Jeuquline Octoviana Tentua, mengatakan jumlah apoteker di Papua Tengah sebenarnya terus bertambah. Namun, sebagian besar masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan, sementara sejumlah daerah pedalaman dan wilayah dengan akses terbatas masih kekurangan tenaga kefarmasian.
“Sebagian besar apoteker berada di daerah yang relatif mudah dijangkau. Sementara di beberapa wilayah lain masih terdapat kekurangan tenaga farmasi, khususnya apoteker,” kata Jeuquline usai Musyawarah Kerja Daerah (Muskerda) dan Workshop Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit Indonesia (HISFARSI) Papua Tengah di Timika, Senin, 1 Juni 2026.
Menurut dia, apoteker memiliki peran penting dalam sistem pelayanan kesehatan, tidak hanya dalam pengelolaan obat dan alat kesehatan, tetapi juga pelayanan farmasi klinis yang berhubungan langsung dengan pasien.
Tugas apoteker, kata dia, mencakup pelayanan resep, pemantauan terapi obat, pemberian edukasi penggunaan obat, hingga keterlibatan dalam kegiatan visite bersama dokter di rumah sakit guna memastikan terapi pasien berjalan optimal.
Jeuquline menyebut jumlah apoteker yang tergabung dalam IAI Papua Tengah saat ini mencapai lebih dari 310 orang. Namun, mereka bekerja di berbagai sektor, mulai dari rumah sakit, puskesmas, apotek swasta, hingga perusahaan distribusi farmasi.
Karena itu, jumlah tersebut belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan tenaga kefarmasian di seluruh wilayah Papua Tengah.
Saat ini, IAI Papua Tengah baru memiliki tiga cabang kepengurusan, yakni di Mimika, Nabire, dan Intan Jaya. Sementara apoteker yang bertugas di kabupaten lain masih bergabung dengan cabang terdekat.
Menurut Jeuquline, kondisi geografis Papua Tengah yang luas serta persoalan keamanan di sejumlah wilayah menjadi faktor utama yang menghambat pemerataan tenaga kesehatan.
“Teman-teman apoteker pada prinsipnya siap bertugas di seluruh wilayah Papua Tengah. Namun faktor keamanan sering menjadi pertimbangan, terutama di daerah yang memiliki tingkat kerawanan tertentu,” ujarnya.
Karena itu, IAI Papua Tengah berharap pemerintah daerah dapat memberikan jaminan keamanan serta meningkatkan kesejahteraan tenaga kesehatan yang bertugas di daerah terpencil dan pedalaman.
“Kami siap mendukung penyediaan tenaga apoteker di seluruh Papua Tengah. Namun perlu ada dukungan berupa jaminan keamanan dan kesejahteraan yang sebanding dengan tantangan tugas di lapangan,” kata Jeuquline.
Melalui Muskerda HISFARSI Papua Tengah, organisasi tersebut berharap dapat merumuskan program yang tidak hanya meningkatkan kompetensi tenaga farmasi, tetapi juga mendorong pemerataan pelayanan kefarmasian hingga ke daerah-daerah yang masih mengalami kekurangan tenaga kesehatan. (lsb)






