Gas LPG Langka di Timika Gegara Pasokan Tersendat dari Makassar, Warga Antre Panjang di Agen


Klaim Pertamina vs fakta lapangan; pasokan tersendat, sistem distribusi energi lokal kembali dipertanyakan.

TIMIKA, KONTENMIMIKA.COM — Kelangkaan LPG di Kabupaten Mimika kembali terjadi. Antrean panjang warga terlihat di sejumlah agen sejak awal April 2026. Pasokan yang tersendat dari luar daerah disebut sebagai penyebab utama, namun distribusi yang tidak merata ikut memperparah situasi.

Agen LPG non-subsidi, PT Musdalifa Karya Mandiri, memastikan kekosongan stok bukan akibat penimbunan. Admin perusahaan, Nining, mengatakan tabung LPG milik mereka belum terisi di Makassar, yang selama ini menjadi titik suplai utama.

“Stok kosong karena tabung kami di Makassar belum diisi,” kata Nining di Jalan Amalogo, Senin, 6 April 2026.

Ketergantungan pada Makassar menjadi persoalan berulang. Saat pasokan di daerah asal dibatasi untuk memenuhi kebutuhan lokal, distribusi ke Timika ikut terdampak. Upaya mencari suplai alternatif dari Surabaya hingga Ambon pun belum berhasil karena wilayah tersebut juga mengalami keterbatasan stok sejak pertengahan Maret.

Akibatnya, sedikitnya tiga agen besar di Timika dilaporkan kehabisan stok. Warga bahkan harus mencari LPG hingga ke luar wilayah, sementara di tingkat pengecer atau warung, barang nyaris tidak tersedia.

“Kalau ada pun harus cari jauh, itu juga belum tentu dapat,” ujar seorang warga.

Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga membantah terjadi kekosongan total. Sales Branch Manager wilayah Timika/Mimika, Junaedi Kala, menyatakan stok LPG masih tersedia, meski hanya tersisa di satu agen.

“Gas tidak kosong. Stok masih ada, hanya distribusinya belum merata,” ujarnya.

Pernyataan ini menyoroti persoalan lain: distribusi yang tidak seimbang di lapangan. Di tengah klaim ketersediaan stok, warga tetap harus mengantre panjang untuk mendapatkan LPG.

Pertamina menyebut pasokan tambahan dari Surabaya dan Makassar dijadwalkan masuk pada 7 dan 13 April. Saat ini, stok LPG ukuran 5,5 kilogram sekitar 2.000 tabung dan 12 kilogram sekitar 1.000 tabung, yang diklaim cukup untuk lima hingga enam hari.

Namun, dengan kondisi antrean yang terjadi, angka tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kecukupan riil di lapangan, terutama jika distribusi tidak merata.

Sebagai langkah sementara, Pertamina bersama agen memberlakukan pembatasan pembelian satu tabung per rumah tangga per hari. Kebijakan ini bertujuan menjaga pemerataan, sekaligus menekan potensi panic buying.

Di tengah situasi tersebut, masyarakat diminta tidak panik. Pertamina juga menyarankan penggunaan energi alternatif seperti minyak tanah.

Meski begitu, krisis ini kembali menegaskan lemahnya ketahanan distribusi energi di Mimika yang masih bergantung pada pasokan luar daerah. Selama rantai pasok belum diperkuat atau didiversifikasi, potensi kelangkaan serupa dinilai akan terus berulang. (crt)

Berita Terkait

Top