Jejak Doa dan Kesetiaan Tuhan di HUT ke-41 GPI di Tanah Papua Klasis Mimika


TIMIKA, KONTENMIMIKA.com – Gereja Protestan Indonesia (GPI) di Tanah Papua Klasis Mimika menggelar perayaan Hari Ulang Tahun ke-41 di Gedung Eme Neme Yauware, Jalan Budi Utomo, Timika, Senin, 25 Mei 2026.

Perayaan yang diawali dengan kebaktian ini dihadiri Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Mimika, Ananias Faot, mewakili Bupati Mimika, Johannes Rettob, serta perwakilan dari berbagai denominasi gereja di Mimika.

Perayaan ini tidak hanya merayakan usia gereja, tetapi juga merayakan kasih Tuhan, pengharapan, serta karya Allah yang terus hidup di tengah umat-Nya.

Ketua Klasis GPI Papua Mimika, Pdt. Dewi Iriani Tuasela, membacakan sambutan Ketua Sinode GPI Papua, Pdt. Donald Edison Salima, yang mengatakan bahwa usia 41 tahun bukan sekadar hitungan waktu, melainkan jejak doa, linangan air mata pelayanan, nyanyian pengharapan, dan kesetiaan Tuhan yang tak pernah berhenti menyertai gereja-Nya.

Tema HUT GPI tahun ini, jelas Dewi, yaitu “Gereja Tangguh, Umat Tangguh, Menghadirkan Kristus di Tengah Krisis”. Tangguh, menurutnya, bukan berarti tanpa luka dan tanpa pergumulan, tetapi tetap percaya ketika dunia goyah, tetap mengasihi ketika kebencian bertumbuh, serta tetap melayani ketika banyak orang menyerah.

Ketangguhan gereja, kata dia, lahir dari iman yang tetap menyala, dari hati yang tetap setia kepada panggilan Tuhan, dan dari umat yang tetap loyal serta berdedikasi dalam pelayanan meskipun menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Sebab, ketika badai datang, Tuhan tetap menjadi batu karang, dan ketika jalan terasa berat, Tuhan tetap menjadi kekuatan.

“Seperti firman-Nya dalam Mazmur 46:2, ‘Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti’,” ungkapnya.

Menurut Dewi, GPI Papua tetap berdiri bukan karena kuatnya manusia, tetapi karena kasih Tuhan yang menopang dari generasi ke generasi. Umat telah ditebus oleh darah Kristus dan dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan kepada kehendak-Nya.

“Kita bukan sekadar anggota gereja, tetapi pekerja-pekerja di kebun anggur milik Tuhan yang dipercayakan untuk merawat, menanam, dan menghasilkan buah bagi kemuliaan-Nya di tanah Papua,” tegas Dewi.

Ia mengatakan, gereja dipanggil untuk terus konsisten memenuhi amanah Missio Dei, menghadirkan kasih Allah di tengah dunia, memberitakan Injil melalui kehidupan, melayani tanpa lelah, menguatkan yang lemah, dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat. Gereja juga dipanggil bukan hanya untuk memenuhi gedung ibadah, tetapi memenuhi dunia dengan kasih Kristus.

Selain itu, gereja diharapkan menjadi terang di tengah gelap, menjadi embun di tanah yang kering, menjadi suara damai di tengah dunia yang mudah terpecah, serta menjadi tanda kehadiran Allah yang memulihkan dan membawa pengharapan bagi semua orang.

“Kami, Majelis Pekerja Sinode GPI Papua, konsisten mengingatkan komitmen kita untuk terus mengobarkan karunia Allah yang ada pada diri kita,” katanya.

Dewi juga berharap anak-anak bertumbuh dalam takut akan Tuhan dengan hati yang murni dan penuh pengharapan.

Pemuda diharapkan bangkit dengan iman dan keberanian menjadi generasi yang menyala bagi Kristus, sementara ibu-ibu tetap setia dalam kasih dan doa menjadi pelita yang menghangatkan kehidupan keluarga.

Ia juga berharap bapak-bapak berdiri teguh dalam hikmat dan tanggung jawab, menjadi teladan iman di tengah rumah tangga dan masyarakat. Para lansia diharapkan tetap kuat dalam pengharapan dan kesetiaan, menjadi sumber hikmat, penjaga nilai-nilai iman, serta teladan kehidupan bagi generasi penerus gereja. Keluarga-keluarga pun diharapkan menjadi altar doa, tempat kasih Tuhan hidup dan bertumbuh setiap hari.

“Biarlah GPI Papua memeluk mereka yang lemah, menguatkan yang putus asa, menopang yang terluka, serta menghadirkan Kristus di setiap sudut kehidupan masyarakat Papua,” ungkapnya.

Dewi menyampaikan terima kasih dan apresiasi tulus kepada seluruh warga jemaat dan semua kawan sekerja Allah yang telah menjadi bagian penting dan strategis dalam perjalanan iman ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan juga disampaikan kepada pemerintah daerah, para tokoh agama dan adat, TNI-Polri, serta seluruh lapisan masyarakat yang selalu mendukung GPI Papua dalam seluruh tatanan pelayanan.

Ia berharap di usia ke-41 ini, Gereja Protestan Indonesia di Papua sebagai rumah bersama semakin kuat dalam iman, semakin tangguh dalam pelayanan, dan semakin menyala dalam kasih Kristus.

“Biarlah terang Injil terus bercahaya. Biarlah dunia melihat kasih Tuhan bekerja. Dirgahayu Gerejaku, Gereja Protestan Indonesia di Papua,” tutupnya. (nls)

Berita Terkait

Top