Distrik Miru Bergerak! Gerakan 21 Hari Bersih Kota Sambut Tiga Momen Keagamaan
Di bawah kepemimpinan baru, Kepala Distrik Merlyn Temorubun, S.STP, Distrik Mimika Baru memulai gerakan terobosan, dimulai dari hal kecil, dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari sekarang.
TIMIKA – Pagi itu, suasana di Pasar Sentral, Jalan Hasanuddin, tampak berbeda. Di tengah aktivitas jual beli yang masih lengang, puluhan orang terlihat sibuk memungut sampah, memangkas rumput liar, dan membersihkan sudut-sudut pasar.
Mereka bukan sekadar petugas kebersihan, melainkan aparatur distrik dan warga yang datang dengan satu tujuan: menjaga kota tetap bersih menjelang hari raya.
Aksi Jumat bersih yang digelar Pemerintah Distrik Mimika Baru, Jumat 20 Maret 2026, menjadi bagian dari gerakan 21 hari kebersihan kota yang dimulai sejak 19 Maret hingga 5 April mendatang.

Momen ini terasa istimewa karena bertepatan dengan persiapan tiga hari besar keagamaan—Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah.
Kepala Distrik Mimika Baru yang baru serah terima jabatan, Merlyn Temorubun, langsung action.
Ia turun bukan di belakang atau di depan, tapi di antara bersama-sama para pegawai distrik. Tidak hanya sekedar mengomandani, tapi turut ambil andil kerja. Inilah prinsip kerja tim yang baik.
Di sela-sela aktivitas, Merlyn menyampaikan bahwa kebersihan bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal kenyamanan batin saat beribadah. Besok, umat Islam Mimika menjalankan Salat Id Idul Fitri 1447 H.

“Ini adalah rangkaian kegiatan kita selama 21 hari. Tujuannya jelas, kita ingin kota ini bersih agar masyarakat bisa beribadah dengan tenang dan nyaman,” ujar Merlyn.
Sehari sebelumnya, gerakan serupa telah dilakukan di area yang berada di bawah pengelolaan BPKAD. Meski bukan kewenangan langsung distrik, Merlyn menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga kebersihan tidak mengenal batas administrasi.
“Kami ingin memastikan tempat itu bersih, apalagi untuk saudara-saudara muslim yang akan melaksanakan shalat. Kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama,” ungkap mantan kepala distrik Wania itu.
Di hari kedua ini, Pasar Sentral menjadi fokus utama.
Tumpukan sampah yang cukup banyak menjadi tantangan tersendiri. Namun, koordinasi cepat langsung dilakukan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta pengelola pasar agar sampah segera diangkut.
“Kami harap malam ini atau besok pagi sampah-sampah ini bisa segera diangkut. Kami juga imbau masyarakat untuk tidak membuang sampah di sini selama proses pembersihan berlangsung,” tambahnya.

Yang membuat kegiatan ini terasa hangat adalah keterlibatan warga dari enam kelurahan—Pasar Sentral, Timika Indah, Wanagon, Koperapoka, Perintis, dan Sempan. Mereka bekerja bahu-membahu, tanpa sekat, tanpa pamrih.
Bahkan, aksi ini juga menjadi potret nyata toleransi. Aparat dan warga non-muslim mengambil peran dalam kegiatan bersih-bersih, memberi ruang bagi umat muslim untuk fokus mempersiapkan ibadah.
“Kami dari non-muslim yang turun. Saudara-saudara muslim kami persilakan untuk fokus persiapan ibadah,” tutur Merlyn.

Menjelang akhir kegiatan, ia berharap langkah sederhana ini bisa menular menjadi kebiasaan baik di tengah masyarakat.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa pemerintah hadir melakukan aksi nyata. Walaupun kecil, kami harap ini jadi contoh. Minimal, masyarakat mau buang sampah pada tempatnya. Nanti petugas kami yang ambil. Mari kita jaga kota kita agar tetap indah dan asri,” pungkasnya.
Di tengah kesibukan pasar, semangat gotong royong pagi itu menjadi pengingat sederhana: kota yang bersih lahir dari kepedulian bersama. (lsb/trm)






