Festival Pasar Imlek 2577 PSMTI Dibuka Bupati John Rettob, Angkat Tema “Harmoni Imlek Nusantara” Libatkan 38 UMKM
Timika, KontenMimika.com – Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Mimika menggelar Festival Pasar Imlek dalam rangka perayaan Tahun Baru Tionghoa 2577 Kongzili/2026 M dengan tema “Harmoni Imlek Nusantara” di salah satu ruko di Jalan Budi Utomo, Timika, Papua Tengah, Minggu (15/2/2026).
Festival Pasar Imlek dibuka oleh Bupati Mimika Johannes Rettob didampingi Ketua Dekranasda Kabupaten Mimika, Ny. Susana Suzi Herawati Rettob.
Festival yang melibatkan 38 pelaku UMKM ini berlangsung selama tiga hari dan disponsori oleh BRI Cabang Timika.

Bupati Mimika Johannes Rettob saat diwawancarai menyampaikan terima kasih kepada PSMTI yang telah melibatkan UMKM Mimika melalui Festival Pasar Imlek dalam menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili/2026 M.
Menurut Bupati, tema “Harmoni Imlek Nusantara” sangat relevan, terlebih pada 2026 sejumlah hari besar keagamaan dirayakan secara berurutan, yakni 17 Februari Hari Raya Imlek, 18 Februari awal Ramadan sekaligus memasuki masa Pra-Paskah umat Kristen, serta 19 Februari Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka bagi umat Hindu.
“Untuk itu, atas nama Pemerintah Kabupaten Mimika, saya mengucapkan selamat kepada seluruh masyarakat Mimika yang merayakan Imlek. Selamat kepada seluruh umat Muslim Mimika yang menyambut awal bulan Ramadan menuju Idulfitri. Umat Kristen menggunakan masa Pra-Paskah untuk merefleksikan diri menyambut Hari Raya Paskah,” ujarnya.
“Dan kepada umat Hindu, selamat Tahun Baru Saka, di mana Hari Nyepi digunakan sebagai momen perenungan, introspeksi, dan pengendalian diri. Terima kasih kepada PSMTI yang telah menghadirkan momen kebersamaan ini,” tambah Bupati JR.
Dengan dilibatkannya UMKM Mimika dalam Festival Pasar Imlek, kata Bupati, membuat pelaku usaha semakin hidup dan bergeliat. Ia berharap ke depan pemerintah dan PSMTI dapat bekerja sama menggelar festival-festival lain yang mampu menggerakkan pangsa pasar UMKM Mimika lebih luas lagi.

Tema “Harmoni Imlek Nusantara” juga diharapkan benar-benar menjadi semangat masyarakat Mimika yang beragam untuk saling menjaga kebersamaan dalam kerukunan dan harmoni. Pasalnya, masyarakat Kabupaten Mimika terdiri atas beragam agama, budaya, dan bahasa.
“Mari kita bersama-sama menyambut hari raya ini dan saling menjaga kebersamaan dengan kerukunan dan harmoni. Kita pertahankan Mimika yang telah ditetapkan sebagai Kabupaten Harmoni se-Indonesia. Kita buktikan. Pada 17 Februari saya akan menggelar acara doa lintas agama di Rumah Negara,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua PSMTI Kabupaten Mimika, Rusli Gunawan, mengatakan Festival Pasar Imlek digelar dalam rangka menyambut Tahun Baru Tionghoa yang jatuh pada 17 Februari 2026. Festival ini berlangsung selama tiga hari dan berakhir pada Selasa (17/2/2026).
“Festival ini dilaksanakan selama tiga hari. Kami bersyukur melihat pembukaan hari ini mendapat antusiasme yang baik dari masyarakat,” ucapnya.
Menurut Gunawan, festival seperti ini perlu terus ditingkatkan ke depannya. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal yang positif bagi PSMTI dan paguyuban lainnya dalam membangun kebersamaan pada perayaan-perayaan besar seperti HUT Kabupaten Mimika maupun HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Ini merupakan langkah awal bagi PSMTI khususnya dan paguyuban lain di Mimika pada umumnya, termasuk budaya Suku Amungme dan Suku Kamoro serta tujuh suku kekerabatan. Ke depan harus ditingkatkan lagi untuk memperkuat kebersamaan paguyuban dengan Pemerintah Kabupaten Mimika,” ungkap Gunawan.
Ia juga menjelaskan bahwa pada 3 Maret mendatang, PSMTI Mimika akan mengadakan perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili/2026 M secara umum di Gedung Graha Eme Neme Yauware. Dalam perayaan tersebut, PSMTI akan mengundang tokoh masyarakat, tokoh pemuda, paguyuban, Forkopimda, serta seluruh warga Tionghoa di Mimika.
Secara nasional, lanjut Rusli, perayaan Tahun Baru Imlek telah memiliki dasar hukum melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002 dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003 yang mengatur perayaan Imlek secara nasional di Indonesia.

“Waktu itu Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, yang menetapkannya. Sejak saat itu perayaan Imlek tidak lagi bersifat internal, tetapi dapat dirayakan secara terbuka karena memiliki dasar hukum yang jelas,” jelasnya.
Gunawan menambahkan, perayaan Imlek bukanlah perayaan agama, melainkan perayaan budaya Tionghoa yang telah ada sejak ribuan tahun sebelum Masehi.
“Budaya Tionghoa ini sudah ada sejak 2557 sebelum Masehi. Artinya, jauh sebelum penanggalan Masehi yang sekarang kita gunakan,” katanya.
Ia bersyukur atas penghargaan Harmoni Award 2025 yang diterima Pemerintah Kabupaten Mimika dalam merawat keberagaman suku, budaya, dan agama.
“Ini menjadi momen yang baik untuk memperkuat kebersamaan dengan budaya-budaya yang ada di Mimika, teristimewa adat dan budaya Suku Amungme dan Suku Kamoro serta tujuh suku kekerabatan,” tutupnya. (Nlsn)






