Lonjakan Bahan Baku Plastik 70 Persen, PT Dwi Koala Timika Naikkan Harga Produk
Kenaikan dipicu ongkos produksi dan distribusi, Disperindag lakukan pengawasan.
TIMIKA, KONTENMIMIKA.COM – PT Dwi Koala, perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) di Kabupaten Mimika, resmi menaikkan harga jual sejumlah produknya mulai 13 April 2026. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas lonjakan harga bahan baku plastik serta biaya pengiriman yang meningkat signifikan.
Manager Pemasaran PT Dwi Koala, Reynaldo, mengatakan kenaikan harga bahan baku mencapai 60 hingga 70 persen. Seluruh kebutuhan produksi, termasuk bahan plastik, masih didatangkan dari Surabaya, sehingga perusahaan turut terdampak kenaikan biaya logistik.
“Kenaikan bahan baku berkisar 60–70 persen. Kami harus menyesuaikan harga jual agar produksi tetap berjalan. Dengan begitu, kami tidak perlu mengurangi jumlah karyawan maupun volume produksi,” ujarnya saat ditemui di Timika, Kamis 16 April 2026.
Ia menjelaskan, penyesuaian harga telah disampaikan kepada pelanggan melalui surat resmi, termasuk ditembuskan kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika sebagai bentuk transparansi.
Adapun rincian kenaikan harga meliputi kemasan 1.500 ml per karton dari Rp50.000 menjadi Rp55.000, kemasan gelas dari Rp25.000 menjadi Rp27.000, galon 19 liter (tukar) dari Rp20.000 menjadi Rp22.000, serta galon 19 liter (beli baru) dari Rp85.000 menjadi Rp90.000. Sementara itu, produk kemasan 330 ml dan 600 ml tidak mengalami perubahan harga.
Reynaldo menambahkan, distribusi produk PT Dwi Koala saat ini masih terfokus di wilayah Kota Timika. Untuk wilayah pedalaman dan luar kota, penjualan dilakukan melalui distributor.

Terpisah, Kepala Disperindag Kabupaten Mimika, Sabelina Fitriani, membenarkan pihaknya telah menerima laporan terkait kenaikan harga tersebut. Ia memastikan pemerintah daerah akan terus melakukan pemantauan di lapangan guna menjaga stabilitas harga dan melindungi konsumen.
“Kami akan terus memantau perkembangan harga di pasaran,” ujarnya singkat.
Kenaikan harga ini diharapkan tidak mengganggu ketersediaan produk di pasaran, sekaligus menjadi langkah strategis perusahaan dalam menjaga keberlanjutan operasional di tengah tekanan biaya produksi. (lsb)






