Lemasa Stingal Johnny Beanal Soroti Galian C di Mimika: Rusak Lingkungan dan Langgar Kesepakatan


Aktivitas tambang material dinilai melanggar kesepakatan adat, picu polusi, hingga kecelakaan lalu lintas.

TIMIKA – Direktur Eksekutif Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa), Stingal Johnny Beanal, menyoroti maraknya aktivitas Galian C di Kabupaten Mimika yang dinilai merusak lingkungan dan mengganggu aktivitas masyarakat.

“Setelah kami memantau dan mengevaluasi di beberapa titik, aktivitas ini sangat merusak lingkungan,” ujar Johnny saat ditemui di Pua-Pua Cafe, Rabu 15 April 2026.

Ia menegaskan, aktivitas Galian C tersebut juga diduga melanggar kesepakatan antara pemerintah daerah dan lembaga adat, yang sebelumnya telah menetapkan bahwa kegiatan penambangan material seharusnya dipusatkan di Distrik Iwaka.

“Kesepakatannya sudah jelas, harus di Iwaka. Tapi kenyataannya masih banyak aktivitas di pusat kota dan lokasi lain,” tegasnya.

Menurut Johnny, dampak yang ditimbulkan tidak hanya berupa kerusakan lingkungan seperti pencemaran air dan lubang bekas galian, tetapi juga polusi udara akibat debu, genangan air, serta terganggunya arus lalu lintas.

“Jalan umum jadi terganggu. Debu di mana-mana, genangan air, bahkan aktivitas masyarakat ikut terdampak,” katanya.

Ia mengungkapkan, Lemasa juga menerima banyak keluhan dari masyarakat adat dan para kepala suku terkait aktivitas tersebut. Bahkan, beberapa insiden kecelakaan lalu lintas disebut terjadi akibat operasional truk-truk pengangkut material.

“Sudah ada kecelakaan yang melibatkan truk besar dengan masyarakat. Ini sangat berbahaya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Johnny menyebut sebagian besar aktivitas Galian C tersebut diduga tidak mengantongi izin resmi, baik dari pemerintah maupun lembaga adat.

“Kalau boleh saya katakan liar, karena tidak ada izin. Di pusat kota, SP2, kali-kali, sampai kawasan Selamat Datang, itu sebenarnya tidak ada izin,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan potensi dampak jangka panjang seperti erosi, longsor, hingga meningkatnya risiko bencana, terutama saat musim hujan.

“Kalau hujan terus, bisa terjadi bencana. Air meluap, bahkan sudah ada kasus anak-anak hanyut,” tambahnya.

Lemasa, kata Johnny, meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah tegas dengan menertibkan bahkan menghentikan aktivitas Galian C di luar wilayah yang telah disepakati.

Menurutnya, Distrik Iwaka telah memiliki akses jalan yang memadai sehingga layak menjadi pusat aktivitas penambangan material.

“Akses ke Iwaka sudah bagus. Jadi semua aktivitas harus dikembalikan ke sana sesuai kesepakatan awal,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Lemasa berencana berkoordinasi dengan dinas terkait serta membentuk tim untuk mendata dan memanggil para pelaku usaha yang terlibat.

“Kami akan turun langsung ke lokasi dan mengundang semua pihak yang beroperasi. Ini demi kenyamanan masyarakat dan kelancaran aktivitas di Mimika,” pungkasnya. (lsb)

Berita Terkait

Top