Kenaikan Harga Barang Ancam Mutu, Dinas PUPR Mimika Hitung Ulang Anggaran 5 Proyek Strategis
TIMIKA, KONTENMIMIKA.com — Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mimika tengah melakukan penyesuaian anggaran terhadap lima program proyek strategis daerah. Langkah ini diambil menyusul adanya kenaikan harga barang di pasar yang memengaruhi estimasi biaya sisa pekerjaan.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mimika, Inosensius Yoga Pribadi, menjelaskan bahwa penyesuaian dilakukan berdasarkan surat edaran terbaru dari Balai Jasa Konstruksi. Surat tersebut mengatur perubahan harga satuan barang terkini yang berbeda signifikan dibanding tahun lalu. Akibatnya, perhitungan koefisien pekerjaan di tiap bidang teknis harus dihitung ulang.
“Kami harus menyesuaikan itu karena koefisien penghitungan pekerjaan masing-masing bidang berbeda. Cipta Karya sendiri, Bina Marga sendiri, dan Sumber Daya Air (SDA) sendiri. Aturan itu harus kami ikuti,” ujar Yoga saat diwawancarai di Timika, Senin, 15 Juni 2026.
Menurut Yoga, penyesuaian harga ini penting dilakukan agar mutu dan kualitas proyek infrastruktur tidak merosot akibat dipaksakan menggunakan standardisasi harga lama. Meski ada kalkulasi ulang, ia memastikan kelima proyek strategis tersebut tidak akan mangkrak dan tetap berjalan sesuai rencana.
Saat ini, kelima proyek strategis tersebut tengah diproses melalui Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) atau e-procurement. “Proyek sedang berproses di LPSE. Sudah ada rekanan yang memenangi lelang untuk pengerjaan perencanaan dan pengawasan,” kata Yoga menambahkan.
Kelanjutan Pengaspalan di Agimuga
Salah satu proyek strategis yang menjadi sorotan adalah kelanjutan pengaspalan jalan di Distrik Agimuga. Yoga menjelaskan, proyek ini merupakan kelanjutan dari pengerjaan tahun lalu yang telah menyelesaikan jalan sepanjang 3 kilometer.
Tahun ini, Dinas PUPR Mimika menargetkan penambahan pengaspalan sepanjang 5 kilometer. Rencana awalnya, pengaspalan ditargetkan tembus hingga ke kawasan Fakafuku. Namun, tim teknis di lapangan menemukan kendala geografis yang mengharuskan adanya pembangunan infrastruktur penghubung terlebih dahulu.
“Sebenarnya pengaspalan ini direncanakan sampai ke Fakafuku. Tetapi di jalur tersebut ternyata harus dibangun jembatan lagi. Karena ada kendala itu, kami di PUPR harus melakukan perencanaan ulang terlebih dahulu,” tutur Yoga menutup penjelasannya. (nls)






