Pemkab Mimika Kaji Cerita Tete Mapuru di Distrik Mimika Timur, untuk Pelestarian Budaya Kamoro


TIMIKA, KONTENMIMIKA.com — Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) mengkaji cerita rakyat Suku Kamoro tentang Tete Mapuru di Kantor Distrik Mimika Timur, Jalan Poros Mapuru Jaya, Papua Tengah, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Kajian tersebut merupakan bagian dari upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan objek pemajuan kebudayaan. Kegiatan ini melibatkan tim ahli dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Papua serta menghadirkan tokoh adat, tokoh masyarakat, pegiat budaya, dan budayawan Suku Kamoro di Distrik Mimika Timur.

Kegiatan dibuka Kepala Bidang Kebudayaan dan Seni Disbudparekraf Mimika, Elisabeth Y. Macsurella, yang mewakili Kepala Disbudparekraf Mimika, Elisabeth Cenawatin. Turut hadir Kepala Distrik Mimika Timur Raymond Tanser dan Kepala BPK Wilayah Papua Desi Polla Usmani.

Macsurella mengatakan pengkajian cerita rakyat sebelumnya telah dilakukan selama sepekan di Distrik Kuala Kencana, Kwamki Narama, dan Mimika Baru dengan fokus pada cerita rakyat Suku Amungme.

Menurut dia, pengkajian kemudian dilanjutkan di tiga distrik yang menjadi wilayah kajian cerita rakyat Suku Kamoro, yakni Iwaka, Mimika Timur, dan Mimika Tengah.

“Pada 31 Juli kami sudah melakukan pengkajian di Distrik Iwaka. Hari ini kami melaksanakan pengkajian di Distrik Mimika Timur. Selanjutnya, kegiatan akan dilakukan di Distrik Mimika Tengah, tepatnya di Atuka,” kata Macsurella.

Pada 2026, Disbudparekraf Mimika mengkaji dua cerita rakyat dari dua suku asli di wilayah tersebut. Cerita pertama berkisah tentang asal-usul keluarga Limang dari Suku Amungme, sedangkan cerita kedua mengangkat kisah Tete Mapuru dari Suku Kamoro.

Hasil pengkajian akan didokumentasikan dalam bentuk buku dan video. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat dan peserta didik, terutama generasi muda Suku Amungme dan Kamoro.

“Ini penting agar cerita rakyat tersebut dapat diketahui oleh anak-anak Kamoro dan Amungme serta seluruh masyarakat,” ujar Macsurella.

Ia berharap para narasumber dapat memberikan informasi dan penjelasan yang lengkap kepada tim pengkaji mengenai cerita Tete Mapuru. Menurut dia, keterangan dari para tokoh adat, tokoh masyarakat, pegiat budaya, dan budayawan menjadi bagian penting dalam proses pendokumentasian warisan budaya tersebut. (nls)

Berita Terkait

Top