Bertha Beanal Geram: Jangan Asal Omon-Omon Soal TP-PKK Mimika, Bicara Harus Pakai Data dan Fakta
KONTENMIMIKA.com, Timika – Di tengah kabar miring mengenai pelayanan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) serta Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Mimika yang terlanjur beredar di media massa, Wakil Sekretaris III TP-PKK Mimika, Bertha Beanal, memilih angkat bicara.
Bertha menilai, kritik terhadap sebuah organisasi pelayanan masyarakat merupakan hal yang wajar.
Namun sayangnya kritik dilempar hanya sekedar ‘omon-omon’ tanpa disertai data, fakta, dan gambaran nyata mengenai apa yang telah dilakukan TP-PKK dan Dekranasda Mimika selama periode kepengurusan 2025-2030.
Terutama ia menyoroti pernyataan seorang yang disebut sebagai tokoh masyarakat yang meminta aparat penegak hukum memeriksa penggunaan anggaran TP-PKK dan Dekranasda Mimika melalui pemberitaan media massa.
Menurut Bertha, jika memang terdapat dugaan penyimpangan, seharusnya hal tersebut disampaikan berdasarkan data dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar opini.
“Tokoh ini siapa yang bicara? Bicara itu jelaskan dengan data dan fakta. Kami dalam kepengurusan saat ini bekerja tulus untuk masyarakat sesuai tugas dan tupoksi dan semampu kami dengan kekuatan yang ada. Tolong bicara (omon-omon) itu jelas,” kata Bertha.
Ia menegaskan, menjadi bagian dari TP-PKK bukan sekadar mengenakan seragam, menghadiri kegiatan seremonial, kemudian kembali ke rumah.
Menurut dia, pelayanan kepada masyarakat membutuhkan tenaga, waktu, perencanaan, koordinasi, pelaksanaan hingga evaluasi.
“Ko kira gampang melayani masyarakat? Melayani masyarakat itu tidak bisa bicara-bicara saja. Harus dengan aksi nyata,” ujarnya.

Bertha bahkan menyebut dirinya sebagai salah satu masyarakat asli Mimika yang akan menjadi orang pertama menyampaikan protes apabila pelayanan TP-PKK tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Kalau TP-PKK Mimika tidak melayani dengan baik, pasti saya orang pertama yang protes,” katanya.
Bukan Sekadar Seragam dan Seremonial
Bertha menjelaskan, membina dan memberdayakan masyarakat tidak dapat dilakukan secara instan. Program harus disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat dan kondisi di lapangan.
Sebagai organisasi formal yang memiliki struktur dari tingkat nasional hingga daerah, TP-PKK, kata dia, memiliki mekanisme kerja yang tidak dapat dilakukan secara sembarangan.
Perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi menjadi bagian penting dalam setiap kegiatan.
Apalagi, TP-PKK menjalankan perannya sebagai mitra pemerintah dan menggunakan dukungan dana hibah yang penggunaannya harus dapat dipertanggungjawabkan.
“Semua harus berdasarkan data, fakta dan kebutuhan lapangan. Ada perencanaan, pelaksanaan, kemudian pelaporan dan evaluasi. Tidak bisa program dibuat hanya karena ingin kelihatan bekerja,” jelasnya.
Bertha mengatakan, selama dirinya terlibat dalam kepengurusan TP-PKK Mimika di bawah kepemimpinan Ketua TP-PKK Mimika, Ny. Suzi Herawaty Rettob, seluruh kegiatan diarahkan agar berjalan secara tertib dan bertanggung jawab.
Ia mengaku merasakan sendiri bagaimana proses pelayanan tersebut dilakukan.
Menurutnya, tantangan pelayanan bukan hanya berada di ruang rapat atau di balik meja kantor. Pengurus TP-PKK dituntut turun langsung menyentuh masyarakat, termasuk masyarakat di kampung dan wilayah pesisir.
“Walaupun kita pejabat publik atau punya pekerjaan lain, ketika sudah memakai pakaian PKK, kita adalah pelayan masyarakat. Kita harus turun ke kampung, ke pesisir dan melihat langsung kebutuhan masyarakat,” katanya.
Bertha pun mengaku dirinya tidak luput dari tuntutan tersebut.
Latar belakang pekerjaan dan kesibukan lainnya, kata dia, tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan tugas ketika sudah menjadi bagian dari organisasi TP-PKK.
“Saya sendiri merasakan lelah dan capeknya melayani. Tetapi ketika sudah memakai pakaian TP-PKK, kita harus profesional,” ujarnya.

Ada Lelah, tetapi Pengabdian Harus Tetap Berjalan
Bertha mengakui pelayanan kepada masyarakat bukan pekerjaan yang ringan.
Ada rasa lelah, keterbatasan tenaga, keterbatasan fasilitas hingga berbagai tantangan di lapangan yang harus dihadapi para pengurus.
Namun, semua itu menurutnya merupakan bagian dari proses pengabdian.
Ia juga menilai pelayanan TP-PKK dan Dekranasda Mimika di bawah kepemimpinan Ny. Suzi Herawaty Rettob selama ini telah berjalan solid dan tegas.
Kompleksitas pelayanan tersebut justru menjadi pengalaman sekaligus pelajaran berharga bagi dirinya.
“Dalam pelayanan di TP-PKK saya sendiri merasakan lelah dan capeknya dalam melayani. Saya tahu bagaimana cara kerja Ibu Ketua TP-PKK dan Wakil Ketua TP-PKK, baik di TP-PKK maupun di Dekranasda Mimika,” katanya.
Karena itu, ia meminta pihak-pihak yang memberikan penilaian agar terlebih dahulu melihat langsung proses pelayanan sebelum menyampaikan kesimpulan kepada publik.
“Jangan sok tahu dan omon-omon saja,” ujarnya.
Masyarakat Diminta Melihat Sendiri
Bertha menegaskan, pelayanan TP-PKK Mimika hingga kini masih terus berjalan meski menghadapi berbagai keterbatasan.
Ia mengatakan, kegiatan yang dilakukan bukan tanpa bukti. Masyarakat dapat melihat berbagai aktivitas TP-PKK dan Dekranasda Mimika melalui sarana publikasi yang telah disediakan.
Salah satunya melalui website resmi TP-PKK Mimika.
Menurut Bertha, keterbukaan informasi tersebut seharusnya dimanfaatkan masyarakat untuk melihat sendiri apa saja yang telah dikerjakan, bukan hanya menerima informasi dari narasi yang berkembang di media massa.
“Orang yang mengaku tokoh tersebut bisa pantau langsung di website PKK. Buka mata baik-baik dan lihat. Kalau memang tidak senang, silakan buktikan juga apa yang sudah dibuat untuk masyarakat,” katanya.
Jangan Patahkan Semangat Orang yang Sedang Melayani
Lebih jauh, Bertha mengaku prihatin apabila narasi yang tidak berdasarkan fakta justru membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang yang sedang berusaha memberikan pelayanan.
Menurut dia, kritik yang tidak disertai data berpotensi menciptakan persepsi bahwa TP-PKK dan pemerintah tidak bekerja, padahal para pengurus terus berupaya menjalankan tugas di tengah berbagai keterbatasan.
“Hal-hal seperti ini ternyata yang membuat semangat pelayanan kepada masyarakat terhambat. Jangan mempengaruhi masyarakat dengan narasi-narasi pesimis yang membuat masyarakat tidak percaya terhadap pelayanan pemerintah maupun mitra pemerintah,” ujarnya.
Ia mengajak siapa pun yang menginginkan Mimika berkembang untuk tidak hanya berbicara, tetapi turut menghadirkan gagasan dan program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kalau tidak senang melihat Mimika berkembang, buatlah program yang bermanfaat bagi masyarakat Mimika,” katanya.
Pada akhirnya, Bertha mengatakan kritik tidak akan membuat dirinya berhenti melayani.
Rasa lelah, menurut dia, menjadi kecil ketika berhadapan dengan masyarakat yang membutuhkan kehadiran dan pelayanan.
Ia memilih tetap menjalankan tugas karena masyarakat yang dilayani adalah bagian dari tanah dan kehidupan yang selama ini ia kenal.
“Kami walaupun capek dan lelah dalam pelayanan di TP-PKK, saya harus tetap semangat. Karena yang dilayani adalah masyarakat Papua sendiri dan juga masyarakat umum lainnya,” katanya.
Ia menegaskan, TP-PKK merupakan bagian dari organisasi nasional yang hadir hingga ke daerah untuk menjalankan fungsi pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga.
“Ini pelayanan. Jadi mari kita sama-sama jaga. Kalau ada yang salah, sampaikan dengan data dan fakta. Jangan membangun opini yang justru membuat masyarakat kehilangan kepercayaan,” tutup Bertha. (trm)






