Dominggus: Peserta Pelatihan Musik Tradisional Mimika Perlu Pembinaan Berkelanjutan


Timika, KontenMimika.com — Para peserta kegiatan pelatihan musik tradisional yang digelar Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Mimika, masih dinilai belum menjiwai musik etnik, sehingga berpengaruh pada kualitas karya yang belum maksimal.

Praktisi Seni Budaya Kamoro sekaligus Anggota DPRK Mimika, Dominggus Kapiyau, mengatakan sebagian besar peserta belum menguasai teknik dasar maupun penghayatan terhadap instrumen etnik.

Ia menilai pembinaan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar mereka mampu menampilkan karya yang layak dipentaskan.

Menurut Dominggus, banyak peserta masih “asal memainkan” alat musik tanpa memahami rasa dan makna dari instrumen tradisional Mimika.

“Dia (peserta) hanya asal main, tidak menjiwai. Dia tidak tahu apa yang dia pukul atau petik. Jadi anak-anak ini perlu ditanamkan bagaimana bermain alat musik dengan rasa dan mencintai budaya. Musik etnik itu sulit,” ujar Dominggus.

Ia menegaskan bahwa musik tradisional menuntut kemampuan menyeluruh: memainkan instrumen, bernyanyi, hingga memadukan gerakan tari tradisional. Karena itu ia berharap seluruh peserta mampu mendemonstrasikan karya yang telah mereka bangun selama pelatihan, sekaligus menularkan pengetahuan kepada teman maupun sekolah lain.

Sementara itu, Dosen Musik STKIP Kusuma Negara Jakarta, Arhamudin Ali, menjelaskan pada hari pertama peserta dibekali materi dasar musik, jenis-jenis musik tradisional Mimika, hingga teknik membuat lagu bertema cerita rakyat, tokoh lokal, dan kisah alam Mimika.

Peserta juga mempelajari teknik bermain instrumen tradisional yang dipadukan dengan teknik musik Barat demi memperkaya aransemen.

“Progresnya sudah mencapai 95 persen. Setelah gladi, kami akan lakukan pemantapan agar bisa mendekati 100 persen,” ungkap Arham.

Ia menyebut peserta mendapatkan tiga kemampuan inti: memahami musik tradisional, mampu memainkan instrumen, serta mampu menciptakan dan mengembangkan musik etnik sesuai perkembangan selera masyarakat. Untuk melatih kerja sama, peserta dibagi dalam kelompok lintas sekolah dengan tanggung jawab instrumen berbeda.

Dari sisi psikologis, Arham menilai peserta menunjukkan perkembangan signifikan, terutama keberanian tampil di depan publik. Secara musikalitas, anak-anak Mimika disebutnya memiliki potensi besar, hanya perlu dibimbing dan dipoles lebih lanjut.

“Anak-anak Mimika itu musikalitasnya bagus. Cuma memang butuh dipoles. Pemahaman bahwa musik itu tidak hanya bernyayi, hiburan, tetapi banyak benefit atau manfaat lainnya,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti teknik khas pemain Mimika dalam memainkan ukulele dan gitar. Meski instrumen tersebut berasal dari Eropa, teknik petikan, posisi jari, hingga gaya bernyanyi masyarakat Mimika memberi ciri khas tersendiri pada musik tradisional lokal.

Arham berharap pelatihan serupa juga diberikan kepada guru-guru yang mengajar mata pelajaran seni namun tidak memiliki latar belakang pendidikan musik.

Dengan pembinaan rutin serta penyelenggaraan festival tingkat sekolah hingga kabupaten, ia meyakini bibit-bibit unggul dapat muncul dan bersaing pada ajang nasional bahkan internasional.

“Harus buat event di sekolah,festival sekolah, festival pelajar sekecamatan, kabupaten, sampai provinsi. Agar bisa mendapatkan bibit untuk ikut festival nasional maupun internasional,” tandasnya. (Admin)

Berita Terkait

Top