Wabup Tegaskan Hapus Pungli Uang Pelicin Masuk Sekolah


Timika, KontenMimika.com — Wakil Bupati Emanuel Kemong menegaskan agar penerimaan siswa baru dilakukan secara terbuka tanpa praktik pungutan liar, atau uang pelicin.

Praktek ini mencederai nilai luhur pendidikan itu sendiri.

Aturan pemerintah sebenarnya jelas: sekolah negeri dilarang memungut biaya masuk, karena semua operasional sudah ditanggung negara. Namun celah masih terbuka, terutama di sekolah favorit. Akibatnya, anak-anak dari keluarga kurang mampu kerap menjadi korban ketidakadilan.

Wabup menegaskan, agar tidak ada orang tua yang membayar agar anaknya diterima di sekolah.

“Jangan ada orang tuanya yang membayar sebagai pelicin agar anaknya diterima di sekolah ini,” tegasnya dalam acara pemerintah di SMA Negeri 1 Mimika, Jalan Yos Sudarso, Senin 13 Oktober 2025.

Langkah tegas Pemkab Mimika untuk menertibkan sistem pendidikan patut didukung. Pendidikan bukan tempat mencari untung, tapi ruang membangun masa depan.

“Bagi yang memenuhi syarat, silahkan diterima. Jangan ada orang tuanya yang membayar sebagai pelicin agar anaknya diterima di sekolah ini,” pintanya serius.

Selain itu Wabup Manu Kemong juga meminta agar ada ruang affirmasi bagi generasi asli Mimika, sebagai pemilik tanah Mimika. Yaitu bagi anak-anak Amungme dan Kamoro.

“Tapi ada satu hal yang harus diperhatikan, yaitu, tolong berikan ruang kepada anak-anak dari Suku Amungme dan Kamoro untuk dapat mengenyam pendidikan di sekolah ini,” tegasnya.

Pendidikan menjadi jalan utama yang membawa peningkatan kesejahteraan bagi warga asli Mimika.

Wabup juga mengingatkan pentingnya menjaga etika, moral, dan kerukunan di lingkungan sekolah.

Para dewan guru diminta untuk menggunakan kata atau kalimat  yang baik dalam proses belajar mengajar.

Terutamanya para siswa di sekolah harus saling menghargai dan bertutur kata sopan dan hindari rasisme.

Wabup Emanuel Kemong berpesan, Mimika harus jadi “Rumah Kita Bersama” — bersih dari pungli, adil, dan berintegritas.

“Kita harus jaga etika dan moral serta menjaga kerukunan dan hindari isu rasis. Kita datang dari berbagai suku bangsa, tapi kita hidup dalam satu rumah, yaitu Mimika Rumah Kita Bersama,” tandasnya. (Admin)

Berita Terkait

Top