Pemkab Mimika Latih 25 Pustakawan Muda, Dorong Budaya Literasi di Kalangan Pemuda
KONTENMIMIKA.com, Timika – Pemerintah Kabupaten Mimika melatih 25 pustakawan muda untuk meningkatkan keterampilan mengelola perpustakaan sederhana, taman baca, hingga rumah baca di lingkungan masyarakat.
Pelatihan yang digelar melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Mimika itu berlangsung selama tiga hari, 28-30 September 2026, di Kangguru Hotel, Jalan Cenderawasih, Timika, Papua Tengah.
Peserta terdiri atas pengelola taman baca, rumah baca, serta perpustakaan sekolah tingkat SMA. Mereka mendapat materi dari narasumber Badan Perpustakaan Nasional dan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Mimika.

Ketua Panitia Alberthin Timang mengatakan, pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan minat baca masyarakat, sekaligus membekali pemuda dengan pengetahuan dan keterampilan mengelola lapak baca, kamar baca, dan rumah baca.
“Selain itu, kegiatan ini juga untuk mendorong lahirnya komunitas dan kegiatan literasi yang kreatif serta inovatif, serta mendorong pemuda menjadi penggerak literasi di lingkungannya masing-masing,” kata Alberthin saat membacakan laporan kegiatan, Senin, 28 September 2026.
Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Sekretariat Daerah Mimika, Fransiskus Bokeyau, yang mewakili Bupati Johannes Rettob, mengatakan pemuda memiliki peran penting dalam pembangunan daerah.

Menurut Frans, pemuda bukan sekadar generasi penerus, melainkan bagian dari kekuatan pembangunan yang perlu mendapat ruang, kesempatan, dan pendampingan dari pemerintah.
Fransiskus mengapresiasi Dispora Mimika yang menyelenggarakan pelatihan tersebut sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan kualitas pustakawan muda.
Ia mengatakan literasi tidak terbatas pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memperoleh, memahami, dan menggunakan informasi secara baik serta bertanggung jawab.
” Salah satu hal yang perlu terus kita dorong adalah budaya literasi di kalangan generasi muda dan masyarakat,” ujarnya.

Fransiskus berharap pelatihan itu tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pengetahuan yang diperoleh peserta harus diterapkan melalui kegiatan nyata di lingkungan masing-masing.
Ia juga meminta peserta memanfaatkan pelatihan untuk menambah pengetahuan, bertukar pengalaman, membangun jaringan, dan mengembangkan gagasan baru.
Menurut Fransiskus, keberadaan lapak baca dapat menjadi ruang bagi anak-anak dan masyarakat untuk memperoleh pengetahuan, mengembangkan kreativitas, serta membangun kebiasaan membaca.
Pemerintah Kabupaten Mimika berharap para peserta mampu menjadi penggerak budaya baca dan belajar, sekaligus memperluas akses literasi hingga ke lingkungan masyarakat yang belum memiliki fasilitas perpustakaan memadai. (nls)






