Dinsos Mimika Bekali Relawan Cara Beri Pertolongan Pertama Psikologis Korban Bencana


KONTENMIMIKA.com, Timika – Penanganan korban bencana alam dan sosial tidak cukup hanya dengan bantuan logistik. Korban juga membutuhkan dukungan psikologis untuk memulihkan rasa aman dan mengatasi tekanan emosional setelah mengalami peristiwa traumatis.

Pentingnya penanganan tersebut menjadi pembahasan dalam Sosialisasi Pelayanan Dukungan Psikososial yang digelar Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Sosial di Aula Bobaigo Keuskupan Timika, Papua Tengah, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah, pendamping sosial, relawan, dan masyarakat dalam memberikan dukungan psikososial kepada korban bencana alam maupun bencana sosial.

Ketua Panitia, Albertus Pigai, mengatakan sosialisasi tersebut diharapkan meningkatkan pemahaman peserta mengenai dukungan psikososial, kemampuan komunikasi, serta keterampilan pendampingan dasar bagi masyarakat yang menghadapi situasi sulit.

Bupati Mimika Johannes Rettob diwakili Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Sekretariat Daerah Mimika, Fransiskus Bokeyau, saat membuka kegiatan. Ia didampingi Sekretaris Dinas Sosial Mimika, Emelia Catrece Samaran.

Sosialisasi menghadirkan dua narasumber, yakni pendamping psikologi korban kekerasan di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Kristin Yoku, serta Magister Psikologi, Chaela Eunike Kolinug.

Korban Bencana Membutuhkan Pemulihan Psikologis

Dalam sambutannya, Fransiskus Bokeyau mengatakan bencana alam maupun bencana sosial tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis bagi individu, keluarga, dan kelompok masyarakat yang terdampak.

Menurut dia, dukungan psikososial tidak sekadar membantu korban mengatasi tekanan emosional. Pendampingan juga diperlukan untuk memulihkan rasa aman, membangun kembali kepercayaan diri, memperkuat hubungan sosial, dan membantu korban bangkit setelah mengalami peristiwa sulit.

Fransiskus menilai setiap orang memiliki respons berbeda ketika menghadapi peristiwa yang mengguncang kehidupannya. Karena itu, pelayanan psikososial harus dilakukan dengan pendekatan yang tepat, penuh empati, dan menghormati martabat setiap individu.

Ia mengingatkan agar masyarakat terdampak tidak justru merasa diabaikan atau disalahkan akibat kurangnya perhatian dari lingkungan sekitar.

“Pelayanan sosial harus dilaksanakan secara profesional, tepat sasaran, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Fransiskus berharap peserta mampu mengenali kebutuhan masyarakat terdampak, memahami bentuk dukungan yang dapat diberikan, serta mengetahui mekanisme koordinasi dan penanganan sesuai kondisi di lapangan.

Ia juga menegaskan pelayanan psikososial bukan hanya tanggung jawab Dinas Sosial, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, relawan, pendamping sosial, dan masyarakat.

Metode PFA Bisa Dilakukan Masyarakat

Sementara itu, narasumber Chaela Eunike Kolinug mengatakan pertolongan awal psikologis kepada korban bencana tidak harus selalu dilakukan tenaga profesional.

Masyarakat umum juga dapat memberikan bantuan awal melalui metode Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis, asalkan memahami prosedur dan batas kemampuan dalam melakukan pendampingan.

Menurut Chaela, PFA memiliki tiga langkah utama, yakni Look, Listen, dan Link atau melihat, mendengarkan, dan menghubungkan.

“PFA ini sangat simpel. Yang pertama kita lakukan yaitu melihat, mendengar, dan menghubungkan,” kata Chaela.

Tahap melihat dilakukan dengan mengamati situasi dan kondisi korban sebelum memberikan bantuan. Langkah ini penting untuk memastikan keselamatan serta mengenali kebutuhan mendesak korban.

Tahap berikutnya adalah mendengarkan. Pendamping perlu mendekati korban dengan pendekatan yang baik, mendengarkan secara aktif, dan membantu mereka merasa lebih tenang tanpa memaksa korban menceritakan pengalaman traumatisnya.

Adapun tahap menghubungkan dilakukan dengan membantu korban memperoleh akses terhadap informasi, bantuan praktis, dan dukungan sosial yang dibutuhkan.

“Hubungkan korban ke posko bantuan makanan, air, pakaian. Bantu mencari anggota keluarga, teman, atau pendukung sosial. Jika korban menunjukkan gejala gangguan psikologis yang parah, segera arahkan ke psikolog, psikiater, atau petugas medis,” ujarnya.

Peserta Diharapkan Menjadi Pendamping Awal

Chaela berharap peserta tidak hanya memahami materi sosialisasi, tetapi juga membagikan pengetahuan tersebut kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan masing-masing.

Dengan pemahaman mengenai PFA, masyarakat diharapkan mampu memberikan pertolongan awal yang tepat kepada individu maupun keluarga yang mengalami krisis akibat bencana alam dan sosial.

Kemampuan mengenali kebutuhan korban, mendengarkan tanpa menghakimi, serta menghubungkan mereka dengan layanan bantuan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang peduli terhadap pemulihan psikologis masyarakat terdampak. (nls)

Berita Terkait

Top